KANDUNGAN DUA KALIMAT SYAHADAT
Muqodimah
Syahadatain
begitu berat diperjuangkan oleh para sahabat, bahkan mereka siap dan tidak
takut terhadap segala ancaman kafir. Sahabat nabi, misalnya Habib berani
menghadapi siksaan dari Musailamah yang memotong tubuhnya satu persatu, Bilal
bin Rabah tahan menerima himpitan batu besar di tengah hari dan sederet nama
lainnya. Mereka mempertahankan syahadatain.
Muncullah
pertanyaan kenapa mereka bersedia dan berani mempertahankan kalimah syahadat?
Ini disebabkan karena kalimah syahadat mengandung makna yang sangat mendalam
bagi mereka. Syahadat bagi mereka mempunyai arti yang sebenarnya mencakup
pengertian ikrar, sumpah dan janji. Mayoritas umat Islam mengartikan syahadat
sebagai ikrar saja. Apabila mereka tahu bahwa syahadat juga mengandung arti
sumpah dan janji, serta tahu bahwa akibat janji dan sumpah, maka mereka akan
benar-benar mengamalkan Islam dan beriman.
Kandungan Kalimat Syahadat :
Pernyataan
(al-Iqraaru), yaitu
suatu pernyataan seorang muslim mengenai keyakinannya. Pernyataan ini sangat
kuat karena didukung oleh Allah, Malaikat dan orang-orang yang berilmu (para
nabi dan orang yang beriman). Hasil dari ikrar ini adalah kewajiban kita untuk
menegakkan dan memperjuangkan apa yang diikrarkan.
Ø
Q.3:
18, syahadat yang berarti ikrar dari Allah, Malaikat dan orang-orang yang
berilmu tentang Laa ilaha illa Allah. Q.7: 172, ikrar tentang Rububiyatullah
manusia merupakan alasan bagi ikrar tentang keesaan Allah. Q.3: 81, ikrar para
nabi mengakui kerasulan Muhammad Saw meskipun mereka hidup sebelum kedatangan
Rasulullah Saw.
Sumpah
(al-Qasamu), yaitu
pernyataan kesediaan menerima akibat dan resiko apapun dalam mengamalkan syahadat.
Muslim yang mengucapkan syahadat berarti siap dan bertanggung-jawab dalam tegaknya
Islam. Pelanggaran terhadap sumpah ini adalah kemunafikan dan tempat orang
munafik adalah neraka jahanam.
Beberapa
ciri orang yang melanggar sumpah adalah dengan memberikan wala’ kepada
orang-orang kafir, memperolok ayat-ayat Allah, malas dalam sholat dan tidak
punya pendirian.
Ø
Q.63:
1-2, syahadat berarti sumpah. Orang-orang munafiq berlebihan dalam pernyataan
syahadatnya, padahal mereka tidak lebih sebagai pendusta. Q.4: 138-145,
beberapa ciri orang yang melanggar sumpahnya yaitu memberikan wala kepada
orang-orang kafir, memperolok-olok ayat Allah, mencari kesempatan dalam
kesempitan kaum muslimin, menunggu-nunggu kesalahan kaum muslimin, malas dalam
sholat dan tidak punya pendirian. Orang-orang mukmin yang sumpahnya teguh tidak
akan bersifat seperti tersebut.
Perjanjian
yang teguh (al-Miitsasqu), yaitu janji setia untuk mendengar dan taat
dalam segala keadaan terhadap semua perintah Allah yang terkandung dalam
Kitabullah maupun Sunnah Rasul.
Syahadat
adalah mitsaq yang harus diterima dengan sikap sam’an wa tho’atan dan didasari
dengan iman kepada Allah, Malaikat, Kitab-Nya, Rasul-Nya, hari akhir dan qadar
baik maupun buruk.
Ø
Q.5:
7, 2: 285, syahadat adalah mitsaq yang harus diterima dengan sikap sam’an wa
tha’atan didasari dengan iman yang sebenarnya terhadap Allah, Malaikat,
Kitab-kitab, Rasul-rasul, Hari Akhir dan Qadar baik maupun buruk. Q.2: 93,
pelanggaran terhadap mitsaq ini berakibat laknat Allah seperti yang pernah
terjadi pada orang-orang Yahudi.
Kalau
kita benar-benar menghayati ketiga makna ini, maka kita telah memiliki komitmen
di dalam hati kita à hati terikat dengan syahadatain.
Komitmen itulah yang disebut IMAN Contoh pribadi yang menyadari ini:
- Bilal
bin Rabbah
- Yasir
dan Sumayyah
- Mush’ab
bin Umair
Konsisten
Keimanan
seorang muslim yang mencakup tiga unsur di atas mesti selalu dipelihara dan
dijaga dengan sikap istiqamah. Istiqamah adalah konsisten, tetap dan teguh.
Tetap pada pendirian, tidak berubah dan tahan uji. Sikap istiqamah akan
melahirkan tiga hal yang merupakan ciri orang-orang beriman sempurna, yaitu:
keberanian
Muncul
karena keyakinan sebagai hamba Allah yang selalu dibela dan didukung Allah.
Tidak takut menghadapi tantangan hidup, siap berjuang untuk tegaknya yang haq
(benar). Keberanian juga bersumber kepada keyakinan terhadap qadha dan qadar
Allah yang pasti. Tidak takut pada kematian karena kematian di jalan Allah
merupakan anugerah yang selalu dirindukannya.
tenangan
berasal
dari keyakinan terhadap perlindungan Allah yang memelihara orang-orang mukmin
secara lahir dan batin. Dengan senantiasa ingat pada Allah dan selalu
berpanduan kepada petunjukNya (kitabullah dan sunnah), maka ketenangan akan
selalu hidup di dalam hatinya.
optimis meyakini bahwa masa depan
adalah milik orang-orang yang beriman. Kemenangan ummat Islam dan kehancuran
kaum kufar sudah pasti. Mukmin menyadari bahwa amal perbuatan yang dilakukannya
tidak akan sia-sia, melainkan pasti dibalas Allah dengan pembalasan yang
sempurna.
Kebahagiaan
Ketiga hasil istiqamah
tadi akan membuat kebahagiaan bagi orang yang memilikinya. Jadi hanya syahadat
sejati yang dapat menimbulkan sa’adah. Hanya Islam dengan konsep
syahadat yang dapat memberikan kebahagiaan kepada manusia di dunia maupun di
akhirat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar