SYARAT-SYARAT
DITERIMANYA SYAHADATAIN
Kunci
Sorga
Dalam atsar disebutkan قِيلَ لِوَهْبِ بْنِ مُنَبِّهٍ أَلَيْسَ لَا إِلَهَ
إِلَّا اللَّهُ مِفْتَاحُ الْجَنَّةِ قَالَ بَلَى
Ditanyakan kepada Wahab bin Munabbih, "Bukankah laa ilaaha
illallah itu merupakan kunci surga?" Wahab menjawab, "Benar,”
Kalau
kita cermati Al-Qur’an dan Sunnah, akan kita dapati nash-nash yang menyatakan
bahwa ada beberapa hal yang membatalkan syahadat yang telah diucapkan. Hal ini
karena syahadat menuntut adanya konsekuensi dan komitmen. Syahadat baru benar
dan dapat diterima apabila memenuhi syarat-syarat sebagai berikut:
1.
Ilmu yang menghilangkan kebodohan
Makna
dan konsekuensi syahadatain hendaklah diketahui secara baik karena Islam tidak
menerima pengakuan dan pernyataan yang didasarkan pada ketidaktahuan.
Persaksian yang tidak didasarkan akan pada ilmu akan sangat rapuh karena ia
tidak mengakar sebagai keyakinan.
“Ketahuilah
bahwa sesungguhnya tidak ada tuhan selain Allah.” (Muhammad:19)
2.
Keyakinan yang menghilangkan keraguan
Syahadatain
yang didasarkan atas pengetahuan yang jelas dan dapat dipertanggungjawabkan
akan melahirkan keyakinan yang mantap dan menghilangkan keraguan di dalam hati.
“Orang-orang
Arab Badui itu berkata, “Kami telah beriman!” Katakanlah (Muhammmad), “Kalian
belum beriman! Tetapi katakanlah, “Kami telah tunduk!” karena iman itu belum
masuk ke dalam hatimu.” (Al-Hujurat: 15)
Rasulullah
bersabda,
“Iman
itu bukan angan-angan dan hiasan. Ia adalah sesuatu yang bersemayam di dalam
hati dan dibenarkan oleh amal perbuatan.”
3.
Keikhlasan dan bebas dari kemusyrikan
Syahadatain
harus diucapkan dengan ikhlas karena Allah dan tidak ada niatan lain selain
mengharap ridha-Nya. Niat yang tidak ikhlas termasuk syirik, padahal Allah
tidak mengampuni dosa kemusyrikan.
4. Ketulusan
(kebenaran) yang menghilangkan kebohongan
Syahadat
harus diucapkan dengan sejujurnya, bukan dengan dusta. Kemunafikan merupakan
perbuatan yang sangat tercela sehingga Allah menyiksa orang-orang munafik di
dasar neraka.
“Mereka
hendak mengelabui Allah dan orang-orang yang beriman, padahal sebenarnya mereka
hanya mengelabui diri mereka sendiri sedang mereka tidak menyadari.”
(Al-Baqarah: 9)
5.
Cinta yang menghilangkan kemarahan dan kebencian
Syahadatain harus
disertai dengan kecintaan bukan dengan kebencian. Hal ini akan dapat dicapai
bila proses syahadatain dilakukan melalui syarat-syarat diatas. Orang yang
bersyahadat harus menghasilkan cinta yang sempurna kepada Allah, Rasul dan
jihad. 2:165 وَالَّذِينَ آمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا
لِلَّهِ (Adapun orang-orang yang beriman sangat cinta kepada Allah). 9:24 cinta kepada
Allah, Rasul dan jihad di atas segalanya (bapak, anak, istri, kaum keluarga,
harta, perniagaan, dan rumah tempat tinggal).
6.
Menerima bukan menolak
Tidak
ada alasan untuk menolak syahadatain dan konsekuensinya karena ia hanya akan
mendatangkan kebaikan di dunia maupun di akhirat.
7. Pelaksanaan
yang menghilangkan kepasifan, meninggalkan dan ketiadaan amal.
Sebagaimana
tersebut dalam hadits di atas, “… dan dibenarkan dengan amal.” Para
ulama menyebut bahwa iman harus meliputi keyakinan di hati, ikrar dengan lisan,
dan amal dengan anggota badan.
8.
Ridha menerima Allah sebagai tuhannya, Rasul sebagai uswahnya, dan Islam
sebagai jalan hidupnya.
Delapan
syarat ini saling terkait dan tak terpisahkan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar